Showing posts with label Malaysia. Show all posts
Showing posts with label Malaysia. Show all posts

Friday, May 22, 2015

Anwar Ibrahim: Ini tak beda dengan Belanda


    NAMA Anwar Ibrahim kembali mencuat sejak ia dipecat oleh PM Malaysia Mahathir Mohammad Rabu pekan lalu. Dia tidak hanya dipecat dari jabatan Deputi Perdana Menteri, Menteri Keuangan, Timbalan Presiden Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO), tetapi bahkan dikeluarkan dari keanggotaan UMNO.
    Pemecatan itu tidak membuat tokoh yang lahir di Penang, 10 Agustus 1947 itu hilang. Ia justru makin populer.  Tuduhan Mahathir bahwa Anwar bermoral rendah, tidak membuat suami Dr Wan Aziza Wan Ismail dan ayah enam putra itu, menjadi kehilangan akal. Ia justru terlihat sabar, tabah, dan tetap bersemangat memperjuangkan negerinya yang juga mulai dilanda resesi.  Berikut ini petikan wawancara wartawan Kompas, Asep Setiawan dengan Anwar Ibrahim di sela-sela pertemuan dengan pendukungnya yang terus menerus mengalir ke rumahnya untuk menangkap semangat reformasi hari Rabu (9/9).

    Mengapa Anda melancarkan gerakan reformasi di Malaysia?
    Saya memang mendukung reformasi dari dulu. Bahkan saat merebak reformasi di Indonesia saya juga dengan positif mendukung, sebab saya kira inilah kesempatan untuk kita menghormati suara rakyat dan negara kita ini juga harus lebih maju dari sudut kebebasan, demokrasi, serta keadilan.

    Apa inti gagasan reformasi yang Anda bawa?
    Sementara pemerintah dan UMNO mampu meneruskan khidmat, tetapi penyesuaian dan pembaruan itu dituntut oleh rakyat. Kasus pribadi saya ini sekadar memberi penjelasan atau bukti bahwa kerakusan kekuasaan masih ada. Mereka gunakan saluran mahkamah untuk menuntut cara-cara dan muslihat yang cukup kotor dari sudut politik.
    Begitu juga tentang kekayaan, distribusi kekayaan. Saya menuntut supaya ekonomi tidak beredar hanya di beberapa kelompok. Saya tidak mengatakan ada ciri persamaan dengan Indonesia. Saya kira tidak separah dan sekentara seperti Indonesia, tapi masalahnya adalah sepatutnya kalau kita peka melihat perkembangan. Kami harus cepat-cepat perbaiki, melalui penyesuaian. Ini yang saya tuntut supaya tidak menimbulkan kemarahan di kalangan rakyat.
    Kalau sekarang rakyat sudah datang, tanpa diundang, sudah ribuan atas inisiatif sendiri, mesti ada sebabnya mengapa mereka tertekan dan meledak.  Yang datang ke sini tua dan muda, serta berasal dari kalangan miskin. Misalnya sopir taksi.

    Apa makna reformasi bagi rakyat Malaysia?
    Saya kira tidak ada keadilan, tidak ada jaminan keadilan. Saya terharu karena tampak rasa kasih mereka kepada saya. Saya juga merasa mendapat rangsangan cukup kuat dari Azizah (istrinya) dan anak-anak. Mereka menganggap saya mewakili dan sebagai simbol perjuangan mereka. Saya tidak menyangka seperti itu. Tidak ada rasa takut dari berbagai kaum. Walaupun mayoritas yang datang Melayu, tapi ada juga keturunan Cina dan India.

    Apa tujuan yang Anda harapkan?
    Di sini Anda lihat koran dan TV dikungkung begitu rupa. Saya sukar sekali mendapatkan informasi yang berbeda. Bahkan di Indonesia dalam keadaan dulu, jauh terbuka. Apa yang berlaku, banyak orang di sekitar Johor menonton berita TVRI dan TV Singapura.

    Tidak ada keterbukaan?
    Sama sekali tidak ada. Seperti Anda lihat sendiri.

    Sejauh mana pengaruh gerakan reformasi Indonesia terhadap Anda?
    Saya melihat positif, dari awal dan beberapa bulan sebelum pertukaran pemimpin, saya berkunjung ke Indonesia berulang kali. Saya mendapat kesan bahwa tidak ada pilihan. Saya sejak awal mendesak untuk ada penyesuaian yang baik sehingga tidak menunggu orang menuntut dengan kasar. Tapi karena itu saya disingkirkan.

    Apa tuntutan rakyat itu?
    Melihat perkembangan yang jauh, mereka juga mau perubahan dari segi keadilan, kebebasan, cara mengurus ekonomi yang memberikan faedah atau bermanfaat untuk golongan berpendapatan rendah dan tidak dimonopoli segelintir kecil, serta ada reformasi budaya yang menyeluruh, keterbukaan.

    Kalau di Indonesia formasi itu pada akhirnya berarti Pak Harto harus mundur, bagaimana dengan di Malaysia?
    Kalau dari tuntutan anak-anak tiap malam jelas (massa yang hadir dalam ceramah Anwar Selasa malam misalnya, dengan semangat menuntut PM Mahathir mundur). Tapi saya melakukan pendekatan yang lebih berhati-hati, supaya ada kesediaan dari pemerintah sendiri. Tetapi pandangan pemimpin tertinggi itu ternyata jauh berbeda dengan kalangan di bawah itu.

    Bagaimana pendapat Anda dengan kebijakan ekonomi terakhir? Apakah akan membawa kebaikan?
    Sebagai rakyat saya menginginkan berhasil, sebab kalau gagal lebih merumitkan ekonomi. Tapi sebagai seorang yang pernah terlibat dalam urusan ekonomi, saya menghadapi sedikit kesukaran karena terpancar dari sikap yang agak tertutup dan menyalahkan orang lain. Jadi kesalahan itu tidak hanya dari orang lain?
    Ya. Saya mewakili pandangan bahwa kesalahan itu bukan hanya ada di sistem internasional, sistem keuangan antarbangsa, tapi juga sistem di dalam negeri.

    Bagaimana pesan Anda bagi Indonesia?
    Saya sungguh terharu. Secara pribadi dari dulu saya dibesarkan dalam iklim cukup akrab dengan teman-teman di Indonesia. Kini teman-teman itu mencoba memahami saya. Tahu fitnah yang dilemparkan sebagai suatu konspirasi politik karena mau menggagalkan usaha reformasi. Saya cukup berutang budi dan terharu dengan amal yang ditunjukkan dan dukungannya, khususnya kepada Presiden (BJ Habibie) secara pribadi, kepada menteri-menterinya, mahasiswanya, serta koran-korannya yang liputannya luar biasa.

    Apakah benar seperti yang dikemukakan dalam Majalah Time, Presiden BJ Habibie pernah meminta Anda untuk menjaga jarak dari PM Mahathir Mohamad?
    Pak Habibie ngomong kepada saya itu sebagai abang kepada adik. Dia bicara pengalamannya dan mengatakan saya harus berhati-hati. Harus sabar, harus juga mengendalikan diri dengan bijak supaya jangan nanti dibebani dengan segala permasalahan.

    Bagaimana tuduhan Anda tidak bermoral?
    Ya, persis seperti itu. Tuduhan bahwa saya akan menjatuhkan pemerintah, agen negara asing, pengkhianat negara. Ini seperti tuduhan Belanda kepada pejuang kemerdekaan Indonesia dulu. Saya bayangkan negara merdeka begini boleh menuduh karena saya semata-mata dilihat sebagai tokoh yang ada wibawa yang boleh mencabar (menantang) kedudukan Pak Mahathir. Itu saja. Dosa saya itu saja. Kalau salah laku seks, apa buktinya? Sampai sekarang nggak ada.
                               ***

    ANWAR kembali sibuk menghadapi para pendukungnya, terutama kaum muda Malaysia. Mereka begitu antusias menyambut, memeluk, dan bersalaman serta bertukar pikiran di rumahnya yang dijadikan tempat peluncuran gerakan reformasi Malaysia.
    Anwar mengukuhkan simbol reformasi politik, ekonomi, sosial dan budaya di Malaysia itu dengan slogan "Kami sokong reformasi". ***
    


KOMPAS, Kamis, 10-09-1998. Hal. 12. Foto: 1
PUSAT INFORMASI KOMPAS
Palmerah Selatan 26-28
JAKARTA 10270

Monday, September 08, 2014

Lebih Jauh Dengan WAN AZIZAH WAN ISMAIL



PENGANTAR REDAKSI
    NAMA Wan Azizah Wan Ismail semakin berkibar di era reformasi Malaysia, tatkala Minggu 4 April 1999  ia dikukuhkan sebagai Presiden Partai Keadilan Nasional. Mungkin dialah perempuan pertama yang memimpin sebuah partai politik di Malaysia. Tampilnya Wan Azizah mirip dengan tampilnya Corazon Aquino di Filipina dan Aung San Suu Kyi di Myanmar. Ia memang mengaku banyak belajar dari Cory dan Suu Kyi.

    Suami Wan Azizah, mantan Deputi PM Malaysia Anwar Ibrahim (52), tanggal 14 April 1999 akan divonis maksimal 14 tahun penjara, jika terbukti bersalah atas empat tuduhan korupsi. Pengadilan Anwar berlangsung lebih dari lima bulan. Setiap hari Wan Azizah mendampingi  suaminya di pengadilan disertai Nurul Izzah, sang putri sulung yang diakuinya sebagai teman seperjuangan.

    Wan Azizah lahir 3 Desember 1952 di Rumah Sakit Kandang Kerbau, Singapura. Tokoh yang biasa dipanggil Datin ini menempuh pendidikan Sekolah Covenant Alor Star dari kelas satu sampai lima. Tahun 1970-1971 masuk College Tunku Kursiah Seremban. Belajar di Universiti Malaya dijalaninya selama tiga bulan, sebelum kemudian pindah ke Royal College of Surgeons, Dublin (Irlandia) dari tahun 1972-1978, dan lulus sebagai dokter spesialis mata. Selesai studi ia bekerja di Rumah Sakit
Besar Kuala Lumpur, lalu ke Rumah Sakit Universitas, Petaling Jaya sampai tahun 1993.
    Ia membangun rumah tangga bersama Anwar tahun 1980 sebelum menjadi seorang tokoh di Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO). Wan Azizah mengakui, pernikahannya dengan Anwar Ibrahim adalah pernikahan dengan pejuang. Oleh sebab itu, sekarang ia akan melanjutkan perjuangan suaminya menegakkan keadilan di Malaysia.
    Pasangan Anwar Wan Azizah dikaruniai lima perempuan dan seorang laki-laki. Mereka itu Nurul Izzah (18), Nurul Nuha (16), Muhammad Ihsan (13), Nurul Imam (11), Nurul Hana (10), dan Nurul Ilham (7).
    Keberanian Wan Azizah makin nyata setelah ia dengan lantang menantang PM Mahathir Mohamad-yang pekan lalu dirawat di rumah sakit jantung-untuk bertanding dalam pemilu mendatang di Kubang Pasu, Kedah. Namun Mahathir yang telah berkuasa selama 18 tahun membalas dengan mengatakan tak mungkin dikalahkan Wan Azizah.
    Menariknya sosok Wan Azizah, membuat pengamat politik Moh Sayuti Omar menulis biografinya berjudul Cinta dan Perjuangan: Nonaku Azizah (1999).

    MENGAPA keadilan menjadi tema utama perjuangan reformasi?

    Sebab kita menyaksikan dengan nyata, keadilan telah dilanggar dengan apa yang berlaku bukan saja kepada suami saya. Tetapi mungkin kasusnya sekarang adalah benar terhadap peristiwa dan tragedi yang menimpa Pak Anwar. Selain itu, kalau kita ungkapkan sejarah terjadinya ISA (Internal Security Act - UU Keamanan Dalam Negeri) atau penangkapan di bawah ISA, itu menjadi satu alat pemerintah untuk menutup suara-suara yang menentang, dan sekarang selalu digunakan secara sewenang-wenang. Siapa saja boleh ditahan di bawah ISA.
    Ini menyebabkan orang-orang yang menyokong reformasi ini menuntut sebuah partai keadilan, di mana tujuan utamanya untuk mencapai keadilan, Insya Allah sebaik mungkin, dalam sistem pemerintahan. Bukan saja keadilan versi sistem perundangan, tetapi juga keadilan pembagian kekayaan, keadilan dari segi bagaimana kekuasaan dilaksanakan, seperti sistem kepolisian dan melalui keadilan di bidang media massa, di mana keadilan itu diberikan dalam liputan kepada siapa saja asal tidak mengganggu ketenteraman dan menghasut.

    Pihak berkuasa mengatakan keadilan sudah terwujud di Malaysia, bagaimana pendapat Datin?

    Kalau sudah terwujud, tidak akan timbul reaksi dari massa, dari segenap lapisan mayarakat, dari segenap kaum dan bangsa. Jadi kalau dikatakan sudah terwujud, kita terang-terang melihat dalam sistem yang ada sekarang-yang dikatakan keadilan terwujud-kenapa Pak Anwar dilakukan begitu, kenapa Lim Guan Eng (tokoh Partai Aksi Demokrasi/DAP yang ditahan dengan tuduhan menghasut) diperlakukan begitu, kenapa Irene Fernandez (aktivis perempuan diajukan ke pengadilan dituduh  memfitnah pemerintah) diperlakukan begitu? Apakah kesalahannya? Undang-undang sepatutnya melindungi hak seorang individu, hak seorang warga negara. Kalau itu dilanggar, mestilah kita bangkit membawa kepada perubahan dan reformasi!

    Bagaimana perjuangan reformasi itu kemudian sampai kepada sebuah pembentukan partai?

    Sebab itu merupakan suatu wadah. Mulanya keadilan itu dituntut rekan-rekan kami yang tidak berpartai, yang tidak ingin memasuki secara langsung sistem politik, tetapi lama kelamaan apa yang kita utarakan secara individu, secara kelompok dan para pendukung reformasi ini, dicoba dibentuk dalam NGO (lembaga swadaya masyarakat/ LSM) yang dinamakan Adil, tetapi tidak diberi ruang leluasa. Kami pun tidak punya tempat dalam partai politik. Jadi dipikirkan perlu suatu wadah politik untuk keperluan itu dan didirikanlah sebuah partai politik.

    Siapa sebenarnya yang mendukung PKN?

    Kebanyakan pendukung reformasi dari semua pihak. Dia mungkin tidak menjadi anggota partai, tetapi semangatnya menyokong keadilan. Kita tidak mau mencuri atau mengambil anggota partai lain, tetapi partai ini mengutamakan untuk kalangan yang tidak berpartai yang ingin berpartai dan juga mengajak untuk bersama-sama menyumbang tenaga menegakkan keadilan.

    Salah satu tantangan PKN, yakni apa mungkin membentuk koalisi?

    Itu dikatakan membentuk kerja sama dengan partai-partai oposisi. Itu yang paling optimal, paling ideal.

    Kira-kira kerja sama dan koalisi itu ada bedanya?

    Ya, sebab kadang-kadang koalisi itu adalah suatu perjanjian yang jelas. Tetapi kalau kerja sama dengan partai, kemungkinan kita lihat apa kehendak penyokong, itu dipertimbangkan, tetapi kerja samanya untuk sama-sama membawa Malaysia ini maju ke tahap yang lebih baik lagi.

    Selama ini UMNO mengklaim memperjuangkan kepentingan Melayu, sedangkan PKN partai multirasial?

    Kita masih memperjuangkan kepentingan Melayu dan kepentingan warga negara Malaysia. Mayoritas penduduk Malaysia orang Melayu, jadi partai ini memperjuangkan juga dalam sistem demokrasinya masyarakat yang terbanyak. Kita tidak mau lagu yang mengatakan kita sama-sama politik perkauman, tetapi ingin memecah belah. Kita ingin menyatu, tetapi bukan hilang identitas kita, Cina, Melayu, dan India. Itu suatu hikmah Allah yang membuat dunia ini bermacam-macam bangsa.

    Sekarang Datin telah ditunjuk sebagai presiden partai. Bagaimana perasaan Datin, apakah kehendak sendiri atau tuntutan?

    Ini tuntutan. Sebab saya pun seorang wanita, ibu, istri, dan dulu seorang dokter, dokter mata. Saya sudah puas dengan pembawaan begitu, tetapi timbul masalah ini dan timbul amanah yang diberikan oleh suami saya untuk memikul tanggung jawab. Sekarang penyokong reformasi mengadakan kesepakatan menerima saya. Saya membawa mereka bersatu, Insya Allah, bekerja sama dan memusatkan kekuatan perjuangan kita.

    Sebagai wanita yang mungkin memimpin partai politik pertama kali, bagaimana melihat situasi seperti ini? Apakah wanita perlu aktif dalam politik?

    Tidak. Bukan perlu aktif, tetapi ada peranan masing-masing. Peranan dalam hidup ini, wanita dan laki-laki itu kita terima hakikatnya. Saya menerima suami saya sebagai pejuang, tetapi pada saat sama sekarang ini saya harus membawa partai, dalam sifat keibuan sebagai seorang ibu yang memelihara anak-anak. Itu saya kira sifat yang baik untuk membentuk pengaruh atau opini. Sokongan kita padukan jadi keluarga terbesar.

    Setelah menjadi ketua partai, apa visi dan cita-cita Datin tentang Malaysia?

    Cita-cita saya melihat Malaysia naik citranya. Kembalikan citra sistem perundangan yang sekarang ini. Bukan saja Pak Anwar yang dibicarakan, tetapi sistem perundangan itu sendiri diperhatikan oleh seluruh dunia. Jadi citra sekarang mesti dipulihkan.

    Satu lagi citra berbilang kaum. Malaysia bisa hidup harmonis. Reformasi ini tidaklah untuk mencetuskan perselisihan antarkaum. Reformasi ini membawa kebaikan untuk semua kaum. Itu visi saya dan akan diutarakan kepada masyarakat.

    Dan bagaimana pula sistem polisi di negara ini agar menjadikan diri mereka bersahabat dengan masyarakat umum. Sekarang ini kita rasa kalau berbicara, perlu tengok belakang. Berbicara mesti dijaga, nanti apa yang akan terjadi, polisi datang malam-malam. Ada iklim ketakutan, perasaan ketakutan. Dan juga media massa dibuat menjadi netral, yang mengutarakan dengan bijaksana, tidak menjadi propaganda siapa pun.

    Kira-kira kalau pemilu segera dilaksanakan apa target partai?

    Kita mesti serahkan kepada pemilih. Itu memang kekuasaan pemilih. Kita hanya membujuk, memohon memilih kami, kekuasaan di tangan pemilih. (Ketika wawancara dilakukan, Wan Azizah mengaku sudah memiliki 7.000 anggota PKN).

    Jadi kalau ada pemilu bulan depan, misalnya, sudah siap?
    Insya Allah.

    SAAT wawancara berlangsung di rumah Anwar Ibrahim, No 8 Jalan Setiamurni 1 di Bukit Damansara, Kuala Lumpur, Malaysia, hari Kamis (8/4/1999), Wan Azizah mengenakan baju biru dengan baju motif bunga juga warna biru. Rumahnya tampak sepi dan kini tidak lagi dijaga polisi. Terlihat beberapa kerabatnya dan pengunjung datang ke rumahnya.

    Datin selama ini dikenal istri Datuk Anwar Ibrahim yang tidak banyak berbicara dalam masalah politik. Tiba-tiba muncul dan vokal berbicara. Apa sebenarnya yang terjadi dalam diri Datin?

    Saya kira dulu tidak merasa vokal, karena cukup saja Bapak Anwar. Sebab itu saya menjaga anak. Tetapi keadaan ini memaksa, memaksa saya untuk membawa kebaikan, kenapa tidak? Kita kan hidup ini sementara, membawa kebaikan... (telepon genggam Datin berbunyi, lalu ia bercakap-cakap sebentar.)

    Jadi bagaimana tentang perubahan diri Datin itu?

    Saya kira, saya tidak berubah. Dulunya saya tidak vokal, saya hanya tak perlu bersuara. Pak Anwar sendiri memadai untuk bersuara, karena peranannya sebagai seorang politisi. Saya berperanan sebagai seorang ibu dan istri dan dulu seorang dokter. Tetapi sekarang ini keadaannya, seperti dikatakan sejumlah ulama, kita da'i di muka bumi Tuhan, menyeru kepada kebaikan, itu saja.

    Bagaimana tanggapan Datuk Anwar ketika Datin ditunjuk sebagai presiden partai?

    Saya mendapatkan izin suami dan teman-teman. Peranan saya sebagai seorang ibu, menjaga anak-anak, membawa sifat keibuan, perhatian, itu yang menyebabkan teman-teman bilang lebih baik memberi saya di tempat itu, untuk membawa partai ini ke hadapan masyarakat.

    Dengan kata lain Datuk Anwar memberi izin Datin menjadi presiden partai?

    Ya.

    Lalu apakah Datin pernah membayangkan jadi ketua partai yang sibuk?

   Sebelum jadi ketua partai pun saya sudah sibuk, sekarang mungkin lebih sibuk lagi. Kalaulah Pak Anwar ditakdirkan didapat tidak bersalah, Insya Allah, datang kembali, saya akan dapat pertolongan, sebab Pak Anwar akan dijadikan semacam penasihat. Tetapi andaikata dia tidak ada, saya terpaksa memikulnya seorang diri. Saya akan buat sebaik mungkin untuk memastikan membawa Malaysia ini-yang tercinta-penuh rasa hikmah dan bertanggung jawab untuk masa depan anak-anak dan generasi akan datang. Insya Allah, saya akan bekerja sekeras mungkin.

    Ada yang mengatakan Datin bukan politisi, sehingga tidak berpengalaman. Tetapi ketika saya bertanya kepada Mohamad Ezam Mohamad Noor (mantan sekretaris politik Anwar), Datin memang simbol  gerakan reformasi. Bagaimana pendapat Datin?
    Saya istri seorang politikus! Saya melihat, tetapi saya tidak campur tangan, tidak memasuki langsung, tidak punya ilmu itu. Saya hanya sebagai pengamat. Banyak para pengamat menulis analisa berhalaman-halaman. Walaupun tidak ada pengalaman, tetapi kalau seseorang itu memberikan satu pandangan yang fresh, yang baru dari sudut yang lain, kemungkinan itu adalah suatu kekuatan, Insya Allah, kita akan membawa kepada pembaruan. Kalaulah dikatakan politik itu memberikan gambaran, mungkin, makna yang lebih bermakna.

    Apakah Datin siap menghadapi tantangan dan kritikan sebagai presiden partai?

    Apa pun orang akan kritik, Nabi Muhammad pun tidak mendapat 100 persen dukungan, walaupun sebaik mana perjuangannya itu. Hidup ini perjuangan. Dan Insya Allah, kita mesti mengambil risiko. Kita hanya merancang, yang memberikannya Allah SWT.

    NAMA Azizah berasal dari bahasa Arab, aziz, yang berarti "berani". Tak heran jika Wan Azizah memang terkesan makin berani dan kritis menyampaikan gagasan pembaruannya. Meskipun demikian, ia tetap seorang ibu dari enam anak yang ditinggal ayahnya karena sedang diadili. Ia merasa tetap harus bertanggung jawab membesarkan mereka.

    Bagaimana respons anak-anak kepada Datin?

    Anak-anak kehilangan ibu, macam itu. Tetapi ada saudara-saudara, teman-teman yang datang menolong. Saya mencoba dengan segala upaya untuk tidak mengabaikan tugas saya sebagai seorang ibu. Sebab saya ibu enam orang anak yang sekarang ini tanggung jawab saya. Insya Allah memberikan kesempatan dunia dan akhirat, sebaik mungkin dapat menjalani hidup ini, iman dan takwa itu penting, dan juga duniawi dengan pendikan yang baik.

    Ya, anak-anak melihat pekerjaan saya, memahami saya. Mama mau pergi kemana lagi? Mama akan pergi untuk mencoba membebaskan papa? Oke-lah Ma. Itu kata anak saya yang kecil (Nurul Ilham, yang baru berusia tujuh tahun -Red). Tadi malam ia demam dan minta saya memegang dahinya. Ke mana Mama hendak pergi? Saya pergi, sebab kemarin setelah sembahyang Maghrib ada program. Dia paham. Dia mengangguk. OK mama, baik mama.

    Setelah Datuk Anwar tidak ada di rumah, siapa yang memikul biaya keluarga ini?

    Saya ada sedikit punya uang pensiun dari bekerja dulu dan teman-teman telah memberi sumbangan dalam bentuk makanan dan sedikit pembiayaan.

    Ketika Datin pergi, Nurul Izzah sering ikut. Bagaimana pendapat Datin tentang Nurul ini?

    Nurul Izzah memang merasa kasihan, karena saya bekerja keras. Dia mencoba memberikan sokongan, moral pribadi. Teman perbincangan di kala sunyi sendirian. Itu kekuatan Nurul Izzah. Ia macam teman seperjuangan, ketika bapaknya tidak ada. Tetapi Nurul Izzah pun anak saya, perlu pendidikan sebab ia masih muda. Insya Allah, sesudah enam bulan cuti (sebagai Mahasiswa Teknik Universitas Petronas)-yang diberikan universitas-ia akan kembali melanjutkan pendidikannya.

    Setelah sekian bulan Datin di rumah, Datuk Anwar tidak ada di rumah. Barangkali ada masa-masa sendirian, bagaimana perasaan Datin?

    Perasaan pilu itu ada, perasan sunyi, tetapi ini adalah hidup. Hidup dengan cobaan dari Allah SWT, tekad kita, takwa kita, dan iman kita. Saya teringat apa yang Allah SWT katakan, takakanlah kamu diberi ganjaran tanpa diuji. Itu memberikan saya kekuatan, sejauh mana saya dapat memegang prinsip lillahi ta'ala, amar ma'ruf nahi munkar (karena Allah, mengarah pada kebaikan dan melarang keburukan). Saya coba, dan saya ingat, Insya Allah ganjaran itu akan saya terima. Kalaupun tidak di dunia, di akhirat. Sebab itu saya bertekad dan memberi saya kekuatan, yang sebelum ini saya sendiri tidak merasa mempunyainya.

    Datin sering dinilai sebagai Cory dari Malaysia. Bagaimana melihat ini?

    Saya mengambil pelajaran dari mantan Presiden Cory. Saya menelponnya. Saya memohon nasihat, sebab saya baru. Dia sudah melaluinya dan dia telah membuktikan memegang jabatan tertinggi  di Filipina, sebab itu saya mengambil kekuatan yang timbul dari mantan Presiden Cory dan dengan Aung San Suu Kyi yang saya rasa mengalami kepedihan, terutama setelah tidak dapat melihat suaminya meninggal. Itu memang saya coba. Walaupun ada contoh-contoh ini, tetapi saya rasa situasinya berbeda sedikit dengan Malaysia. Saya berusaha membuat sebaik mungkin dengan nasihat teman-teman.

    Apa yang dapat dipelajari dari Cory dan Suu Kyi?

    Ketahanan mereka, ketabahan mereka, kesucian nilai yang mereka pegang. Walaupun tidaklah sama dengan kita, tetapi kesucian mereka merupakan nilai-nilai sejagat. Itu yang penting yang saya dapat rasakan. Tantangan mereka lebih besar daripada saya. Insya Allah, saya dapat mempertahankan apa yasng jadi prinsip dari segi iman dan takwa. ***